Selasa, 09 April 2013

Skets Pangeran Diponegoro ketika Sakit, 1830-an. Oleh AJ.BIK, Pengawas P Diponegoro dalam tahanan VOC di Batavia

Berikut ini adalah sketsa Pangeran Diponegoro yang dibuat oleh Adrianus Johannes Bik (1790-1872). Sketsa ini dibuat dengan menggunakan arang. A.J Bik sendiri adalah pemangku hukum Batavia dan pengawas Pangeran Diponegoro selama Pangeran Diponegoro tinggal di Balaikota (Satdhuis) dalam rangka pengasingannya. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa skesta ini dibuat pada tahun 1830-an pasca penangkapannya di Magelang. Disebutkan bahwa A.J. Bik yang membuat sketsa atas dirinya adalah seniman paling terdidik di Hindia Belanda.
Dalam gambar sketsa ini tampak bahwa Pangeran Diponegoro mengenakan pakaian ulama yang dikenakannya selama Perang Jawa (1825-1830). Pakaian tersebut terdiri atas sorban, baju koko tanpa kerah, dan jubah. Sehelai kain selempang tersampir pada bahu kanannya. Ia juga tampak menyelipkan pusakanya yang berupa keris yang diberi nama Kyai Ageng Bondoyudo. Kyai Bondoyudo ini terselip pada ikat pinggang yang terbuat dari bahan sutera dengan motif bunga-bunga.Tampak dalam sketsa ini pipi Pangeran Diponegoro demikian cekung. Hal demikian itu menonjolkan tulang pipinya yang tinggi. Pipi cekung dan tulang pipi yang menonjol ini adalah akibat sakit malaria yang dideritanya. Malaria itu ia derita sejak ia berkelana di hutan-butan Bagelen (mungkin juga hutan-hutan Menoreh/Kulon Progo) pada masa akhir Perang Jawa yang ia kobarkan.
Tidak banyak orang yang tahu tentang gambaran Pangeran Diponegoro dalam keadaannya yang sakit dan pucat seperti itu sebab banyak penggambaran sosok Pangeran Dipongeoro yang ditampilkan dengan demikian gagah atau garang ketika memimpin peperangan. Keteguhannya untuk terus bertahan sekalipun sekutu-sekutunya banyak yang menyerah dan ditangkap Belanda barangkali juga turut menggerogoti sisi psikologisnya yang pada gilirannya juga ikut memperlemah daya tahan fisik pribadinya. Sekalipun demikian, ia tetap teguh untuk tidak menyerah kepada Belanda sampai kemudian ia ditaklukkan melalui meja perundingan yang dirancang dengan segala kelicikan dan tipu muslihat Belanda yang sama sekali mengabaikan sifat-sifat kesatriaan.Apa yang terjadi atas Pangeran Diponegoro ini mungkin sama seperti yang dialami Jenderal Soedirman yang juga memimpin perang dalam keadaan sakit. Sekalipun mereka menderita demikian mereka tetap tidak manja bahkan tetap tidak mau dirayu, dibujuk dengan iming-iming kekuasaan dan harta benda yang dapat menjamin hidup duniawi mereka.
Sumber: a.sartono, Tembi.com, Peter Carey, 2012, Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan di Jawa, 1785-1855, Jakarta: KPG bekerja sama dengan KITLV-Jakarta, Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Aseasuk, Fadli Zon Library, dan Gramedia Printing Group. Tulisan ini sengaja ditampilkan agar anak anak ku mampu melihat secara historis peranan para pahlawan dalam kelahiran suatu bangsa..

Selasa, 02 April 2013

Ki Ageng Mangir Pembayun : Di Batas Kali Sunter Cilangkap Tapos Depok , Aku dan Putriku Rausyan Fikri.

http://pahlawan-kali-sunter.blogspot.com/ 

Tak banyak yang tahu bahwa kali Sunter diwilayah Jakarta Timur dan Utara (terkenal dengan Sunter Podomoro atau Danau Sunter di wilayah Ancol, mempunyai sumber mata air di kelurahan Cilangkap Tapos Depok, sumber itu berupa kali selebar 3 meter yang tak pernah kering sepanjang masa, Di ujung mata air Kali Sunter terdapat makam seorang bangsawan Banten keturunan Cina bernama Santri Bethot atau Lie Suntek, nama kali Sunter sangat besar berasal dari nama Lie Suntek ini, Lie Suntek adalah putra dari Ki Panji Wanayasa, Cicit Panembahan Senopati dari Putri Pembayun yang dimakamkan di Kebayunan Tapos Depok, Ki Panji Wanayasa yang juga ayah dari Mbah Arif Maulana di Leles Garut dan Syech Abdul Muhyi di Pamijahan Ciamis ini dimakamkan di samping setu (danau) Jati Jajar, Kelurahan Jati Jajar Kecamatan Tapos Depok. Cucu Pembayun ini sangat pintar mendidik anak anaknya sehingga anaknya menjadi pahlawan atau orang ternama, termasuk Untung Suropati, seorang putra Mataram yang oleh VOC Belanda sengaja dikaburkan asal usulnya menjadi seorang budak keturunan raja Bali. Disamping mata air kali Sunter aku bersama keluargaku tinggal.


Minggu, 10 Februari 2013

"Mungkin" Kata Saudaraku Mangir & Ki Ageng Mangir




Sejarah selalu berulang, karena genetika seseorang selalu bertemu dengan genetika masa lalu yang mempunyai pengalaman dan kisah yang sama, seperti Ki Ageng Mangir dan Pembayun, lalu dilanjutkan dengan Utari Sandijayaningsih dan Wali Mahmudin, sebuah cerita yang selalu berulang , terimakasih untuk Adimas Mangir & Ki Ageng Mangir di Bantul , mungkin representasi gambarnya bisa menjadi kenyataan,

Jumat, 08 Februari 2013

Ki Ageng Mangir ,Hafidz Ammar dan Kisah prajurit yang selalu paling depan



Ternyata pengorbanan Ki Ageng Mangir di Mataram memberikan dampak yang sangat besar bagi keturunannya, Ki Ageng Mangir yang merasa tak pernah punya musuh, Ki Ageng Mangir yang berpendidikan dan santun , sudah menyadari bahwa keturunannya lebih penting bagi kelangsungan eksistensi dirinya, Ki Ageng Mangir yang Muslim adalah sangat cerdas dan menyadari bahwa generasi sesudahnya bersama Pembayun akan lebih bermakna, maka ketika Bagus Wonoboyo, Utari Sandi Jayaningsih dan Raden Panji Wanayasa menjadi garda terdepan Mataram ketika melawan VOC Belanda, jelaslah sudah bahwa memang keturunan Ki Ageng Mangir dipersiapkan untuk menjadi para pengabdi kejayaan Mataram di Garis Depan Nusantara.



Minggu, 30 Desember 2012